Jika Indonesia saat ini tengah menjajaki teknologi WiMAX untuk khalayak luas, Amerika Serikat justru telah mengimplementasikan teknologi pita lebar ini. Tercatat paling tidak tujuh operator telekomunikasi di Amerika yang telah memasarkan WiMAX, di antaranya adalah Sprint, Clearwire, Alvarion, Magticom, Digital Bridge Communications (DBC), Globalstar dan Open Range Communication. Keseluruhan operator tersebut mengoperasikan WiMAX di frekuensi 3,5 GHz, yang memiliki kecepatan 2 hingga 6Mbps. Dengan kecepatan serta besaran data yang cukup besar, teknologi WiMAX dipergunakan untuk berbagai kepentingan, seperti bisnis, pendidikan, kesehatan, serta layanan online.
Dalam implementasi teknologi WiMAX, dua operator besar—Sprint-Nextel dan Clearwire—melakukan merger dengan nilai total investasi US$ 14,5 milyar. Sebesar US$ 3,2 milyar berasal dari beberapa investor diantaranya Comcast, Intel, dan Google. Investasi ini digunakan untuk menyediakan layanan WiMAX di 15 kota.
Dari hasil merger Sprint-Nextel dan Clearwire, saat ini hanya Baltimore yang telah terjangkau teknologi WiMAX. Di akhir tahun 2009, 10 kota lain yaitu Atlanta, Charlotte, Chicago, Dallas, Fort Worth, Honolulu, Las Vegas, Philadelphia, Portland, dan Seattle direncakan telah dapat menikmati teknologi pita lebar tersebut. Sedangkan 4 kota sisanya akan menyusul mengaplikasikan WiMAX di tahun 2010. setiap kota rencananya akan dibebankan US$ 40 juta per bulan untuk menikmati layanan WiMAX.
Sementara itu, Alvarion mengusung investasi sebesar US$ 34 juta untuk memenuhi kebutuhan WiMAX bagi 129 komunitas rural di Florida dan Georgia. Dari investasi tersebut, Alvarion telah menuai revenue dari WiMAX sebesar US$ 171 juta di tahun 2008 saja. Angka ini tumbuh 38% dari tahun sebelumnya.
Memanfaatkan layanan WiMAX memang dinilai lebih menguntungkan karena masyarakat bisa mendapatkan teknologi yang lebih maju (kapasitas besar, akses cepat) dengan harga yang lebih murah. Operator rata-rata mematok harga berlangganan antara US$ 20 – US$ 30 per bulan. Bandingkan dengan harga akses 3G yang dijual oleh Verizon misalnya, yaitu seharga US$ 60 per bulan. Untuk CPE, Sprint memasang harga US$ 149 per unit. Sedangkan untuk USB dongle yang memungkinkan akses WiMAX secara mobile, Clearwire memasang harga US$ 49,95.
Maraknya teknologi WiMAX ini membuat beberapa manufaktur notebook seperti Acer, Asus, Dell, Fujitsu serta Lenovo bersiap-siap memasang aplikasi WiMAX di perangkat mereka. Sampai saat ini, hanya Intel yang telah membuat aplikasi untuk WiMAX.
Dukungan pemerintah Amerika sendiri sangat terasa dalam implementasi WiMAX. Dana sebesar US$ 4,7 milyar dikucurkan pemerintah untuk membiayai program stimulus broadband. Dari jumlah tersebut, lebih dari 50%—tepatnya sejumlah US$ 2,5 milyar—dialokasikan bagi pengembangan WiMAX di area rural. Sebelum WiMAX diimplementasikan di Amerika, 62% dari penduduk rural yang berjumlah 12 juta individu belum memiliki akses broadband. Beberapa kerjasama telah diwujudkan untuk proyek di area rural ini, diantaranya adalah kerjasama antara Globalstar dan Open Range Communication yang memiliki nilai investasi US$ 267 juta yang dialokasikan untuk 500 komunitas.
Tak hanya mengucurkan dana, pemerintah pun turut memanfaatkan teknologi WiMAX dengan maksimal. Saat ni Departemen Transportasi California menggunakan jaringan WiMAX sebagai warning system bernama Fog Pilot untuk memberikan sinyal kepada pengemudi jika lalu lintas mulai melambat atau memadat. Fog Pilot ini diletakkan di sepanjang jalan yang rawan kecelakaan karena kabut yang tebal.
(Dikompilasi dari berbagai sumber berita)